Aktor & Jurnalis Senior Eddie Karsito Mengenang WS. Rendra, Lewat Puisi “Sayap Angin dan Kasyaf Kata”

Jakarta. News Viralkata.com

Aktor dan Jurnalist Eddie Karsito Kenang WS. Rendra Lewat Puisi “Sayap Angin dan Kasyaf Kata”
OBITUARI Sang Burung Merak, Mengenang Sang Maestro yang Karya dan Pemikirannya Tetap Hidup Melampaui Zaman.

BAGASASSIE – Penyair sekaligus seniman Eddie Karsito menyampaikan penghormatan dan kerinduan mendalam kepada sastrawan besar Indonesia, WS. Rendra, melalui sebuah puisi berjudul “Sayap Angin dan Kasyaf Kata: Obituari Rindu untuk WS. Rendra”.

Puisi yang ditulis pada 7 November 2026 tersebut menjadi ungkapan penghormatan kepada sosok yang dikenal luas dengan julukan Sang Burung Merak.

Eddie Karsito Kenang WS. Rendra Lewat Puisi “Sayap Angin dan Kasyaf Kata”
Bagi Eddie Karsito, WS. Rendra bukan sekadar penyair dan dramawan besar, melainkan juga sosok guru pemikiran yang gagasan, karya, serta perjalanan spiritualnya memberikan pengaruh mendalam bagi banyak orang.

Melalui rangkaian larik yang sarat metafora, Eddie mengungkapkan kerinduan sekaligus doa bagi sang maestro. Ia menggambarkan kepergian Rendra sebagai perjalanan menuju keabadian, tempat segala batas duniawi melebur dalam kedamaian Ilahi.

Dalam bait pembuka, Eddie menulis:

“Kukirim doa yang bersembunyi di sayap angin
Mengetuk pintu malam yang sunyi dan hening.
Kutabur untaian bunga di atas pusara ingatan
Merawat rindu yang kini menjelma

keabadian.”

Larik-larik tersebut menggambarkan suasana kehilangan yang tidak semata-mata diungkapkan melalui kesedihan, tetapi juga melalui doa dan penghormatan. Kenangan terhadap Rendra dihadirkan sebagai sesuatu yang terus hidup, meskipun sosoknya telah melampaui batas kehidupan duniawi.

Eddie Karsito Kenang WS. Rendra Lewat Puisi “Sayap Angin dan Kasyaf Kata”
Eddie juga mengenang perjalanan kesenian dan spiritualitas Rendra. Baginya, sajak-sajak Rendra bukan hanya karya sastra yang memiliki kekuatan estetika, tetapi juga menjadi jembatan perenungan bagi manusia dalam memahami kehidupan dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Hal itu tergambar dalam bait berikut:

“Wahai WS. Rendra, Sang Burung Merak yang terbang tinggi
Kini kau telah melampaui batas fana dan diksi.
Sajak-sajakmu dulu adalah jembatan ruhani,
Menuntun jiwa meraba rahasia Sang Ilahi.”

Nuansa sufistik semakin terasa pada bagian berikutnya. Eddie menggunakan metafora perjalanan cinta seorang hamba menuju Sang Pencipta. Kematian dimaknai sebagai kepulangan, sebuah perjalanan meninggalkan kefanaan untuk menemukan keabadian dalam cinta Ilahi.

“Cinta sufistikmu kini telah menemui muara
Melepas jubah dunia, melebur dalam cahaya.
Tiada lagi jarak, tiada lagi sekat penantian
Ketika kekasih sejati telah memelukmu dalam kedamaian.”

Puisi tersebut kemudian ditutup dengan ungkapan doa dan harapan agar WS. Rendra memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan.

“Tuhan kini berada di sisimu, mendekapmu dengan cinta
Dan surga menjadi tempatmu, rumah abadi yang baka.
Istirahatlah dalam keindahan yang tak bertepi,
Di dalam kebun-kebun cahaya yang hakiki.”

Eddie mengakhiri puisinya dengan ungkapan Al-Fatihah, sebagai doa bagi almarhum. Penutup tersebut sekaligus menegaskan bahwa puisi ini bukan hanya sebuah karya sastra memorial, melainkan juga ungkapan kasih, penghormatan, dan doa dari seorang murid kepada sosok yang telah memberikan inspirasi dalam perjalanan pemikiran dan keseniannya.

Eddie Karsito Kenang WS. Rendra Lewat Puisi “Sayap Angin dan Kasyaf Kata”
Sebagai murid gagasan WS. Rendra, Eddie Karsito menempatkan warisan sang maestro bukan semata-mata pada karya-karya yang telah ditinggalkan, tetapi juga pada keberanian berpikir, kebebasan berekspresi, serta kesadaran kemanusiaan yang terus relevan lintas generasi.

Bagi Eddie, kepergian seorang seniman besar tidak serta-merta mengakhiri perjalanan gagasannya. Tubuh boleh tiada, tetapi kata-kata, pemikiran, dan nilai-nilai perjuangannya akan terus hidup dalam ingatan serta karya generasi penerus.

“Sayap Angin dan Kasyaf Kata” menjadi persembahan rindu Eddie Karsito untuk Sang Burung Merak. Sebuah penghormatan puitis yang mengingatkan bahwa keabadian seorang seniman tidak hanya terletak pada namanya, tetapi juga pada jejak pemikiran dan cahaya inspirasi yang diwariskannya kepada zaman.

Al-Fatihah untuk WS. Rendra.

Tentang Penulis
Eddie Karsito adalah seniman, penulis, dan penggiat kebudayaan yang menyebut dirinya sebagai murid gagasan WS. Rendra tuturnya.

)***PRAY/Photoistimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *