Bintangi ‘Lastri: Arwah Kembang Desa’, Hana Saraswati Ungkap Hangatnya Lokasi Syuting di Tengah Teror Horor

Jakarta News Viralkata-Industri sinema horor Indonesia kembali bersiap menyambut karya terbaru yang diangkat dari kekayaan legenda urban lokal. Film ‘Lastri: Arwah Kembang Desa’ dijadwalkan resmi meneror layar bioskop mulai 16 Juli 2026 mendatang. Mengangkat kisah tragis dari mitos masyarakat Lumajang, film ini menempatkan aktris berbakat Hana Saraswati sebagai pemeran utama.

Namun, di balik layar yang penuh ketegangan, tersimpan sebuah narasi humanis yang hangat mengenai soliditas para kreatornya.

Menepis Status Outsider Lewat Kehangatan di Lokasi Syuting

Dalam acara gala premier dan konferensi pers yang berlangsung di kawasan Jakarta Selatan pada Kamis (9/7/2026), Hana Saraswati membagikan pengalamannya menghidupkan karakter Lastri. Karakter ini digambarkan sebagai seorang wanita yang meninggal secara tragis, yang arwahnya kemudian bergentayangan dan menebar teror di seluruh desa.

Menariknya, atmosfer mencekam di depan kamera berbanding terbalik dengan dinamika di balik layar. Hana mengungkapkan bahwa masuk ke dalam proyek ini awalnya memberikan tantangan tersendiri, mengingat mayoritas pemeran lainnya sudah saling mengenal dan membentuk sebuah lingkaran persahabatan yang erat.

“Ini pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Bisa dibilang saya salah satu dari segelintir outsider (orang luar) yang masuk ke lingkaran pertemanan mereka,” ujar Hana di hadapan awak media.

Kendati demikian, kekhawatiran tersebut sirna berkat keterbukaan dari seluruh tim produksi. Proses pembangunan kemistri (chemistry building) berjalan secara natural tanpa hambatan.

“Entah kenapa kami langsung merasa cocok. Saya tidak merasa menjadi orang luar sama sekali karena teman-teman di sini sangat terbuka,” tambahnya.

Kolaborasi Lintas Lini dan Dedikasi Terakhir Mendiang Gary Iskak

Kunci keberhasilan produksi ini, menurut Hana, terletak pada komunikasi dua arah yang cair tidak hanya antar-aktor, melainkan dengan seluruh elemen produksi. Keterikatan emosional harus dibangun secara menyeluruh demi menghasilkan visualisasi horor yang organik.

“Mulai dari jajaran pemain hingga kru, kemistrinya sangat kuat. Bermain film bukan hanya soal hubungan antar-pemain, tetapi kami juga harus menyatukan frekuensi dengan sutradara dan Director of Photography (DOP). Semua elemen itu harus hidup bersama,” jelas Hana secara mendalam.

Selain menyajikan teror psikologis yang mencekam melalui interaksi karakter Lastri dengan sosok misterius bernama Turenggo, film ini juga memiliki nilai historis yang mendalam bagi industri perfilman tanah air. ‘Lastri: Arwah Kembang Desa’ menjadi karya sinematik terakhir yang dibintangi oleh aktor senior Gary Iskak sebelum beliau berpulang pada akhir November 2025 lalu. Kehadiran mendiang dalam film ini sekaligus menjadi penghormatan atas dedikasi panjangnya di dunia seni peran.

‘Lastri: Arwah Kembang Desa’ bukan sekadar selebrasi ketakutan atas legenda urban yang diangkat ke layar lebar. Di balik layar, film ini adalah manifestasi dari sebuah kolaborasi yang matang, tempat profesionalisme melebur dengan rasa kekeluargaan yang tulus.

Ketika sebuah karya horor lahir dari rahim lingkungan kerja yang hangat dan solid, maka kengerian yang tersaji di bioskop nanti bukan lagi sekadar trik visual murahan, melainkan sebuah mahakarya sinematik yang bernyawa, berkarakter, dan siap mengikat emosi penontonnya secara total sejak menit pertama pungkasnya.(PRAY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *