Tak Berkategori

Politisi Golkar Muhammad Sarmuji, SE,M.Si, Dapat Award dari PWI Jatim.

SURABAYA- VIRALKATA.COM : Muhammad Sarmuji, SE, M.Si, politisi muda Partai Golkar mendapat award dari PWI Jatim dalam rangka HPN 2020. Sarmudi mendapatkan award dalam bidang Tokoh Politik. Selain Sarmuji, jua ada sejumlah tokoh lainya yang mendapatkanaward serupa dalam bidang-bidang yang lain, diantaranya Prof Dr. Muhajir Efendi tokoh dalam bidang Pemerintahan,  Dr Zaenudin Amali tokoh dalam bidang Olahraga, Nani Wijaya tokoh dalam bidang Pers, Dra Hj Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim dalam bidang Special Award, dan sejumlah tokoh-tokoh lainnya.

Muhammad Sarmuji, posisinya saat ini sebagai salah satu Ketua DPP Partai  Golkar, juga baru terpilih sebagai  Ketua DPD  Golkar Jatim,    sangat lekat dengan sebutan seorang aktivis. Selain itu, Sarmuji juga terpilih menjadi Ketua Umum KAUJE, periode 2020-2024.

Dia adalah tokoh muda Golkar yang lahir di Surabaya, Jawa Timur, 12 November 1974.  Nama  lengkap Muhammad Sarmuji adalah Anggota DPR RI periode 2014-2019 dari Partai Golongan Karya. Terpilih pada usia 40 tahun dari Daerah Pemilihan (Dapil) VI.

Sarmuji terpilih menjadi anggota DPR RI pada Pemilu 2014 dari daerah pemilihan Jawa Timur VI yang meliputi Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Tulungagung dengan meraih suara sebanyak 57.586 suara.

Di DPR RI, Sarmuji duduk sebagai anggota Komisi VI – Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Koperasi, UKM & BUMN, Stadarisasi Nasional. Sarmuji dipindah ke Komisi IX DPR-RI di bulan april 2015 pada pergantian komisi di Fraksi Partai Golkar.

Kemudian saat pergantian ketua DPR dilakukan lagi rotasi di tubuh fraksi golkar dan menugaskan Sarmuji di komisi XI yang membidangi keuangan dan perbankan. Pada Pileg 2019, Sarmuji terpilih kembali untuk periode kedua di Dapil VI juga untuk duduk di DPR RI periode 2019-2024.

. Sarmuji memulai perjalanan politiknya dengan menjadi anggota dari organisasi sayap Partai Golkar yaitu Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG). Sarmuji sempat menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jedral AMPI dari 2003-2008 dan menjadi Sekretaris Jenderal DPP AMPG dari 2010. Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Nasional (PPN) Pengurus Besar HMI periode tahun 2000 – 2002Lahir di Surabaya, Jawa Timur, Sarmuji menempuh pendidikan dari SD hingga SMA di Kota Surabaya. Setelah lulus dari SMA, ia masuk kuliah ke Universitas Jember, Jember, pada 1992. Di kampus Sarmuji masuk di Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, hingga lulus pada 2000. Sarmuji melanjutkan pendidikannya di Program Pascasarjana Universitas Indonesia dan meraih gelar master bidang administrasi bisnis pada 2006.

 

Jiwa pergerakan Sarmuji sebagai seorang aktivis sejak masih mahasiswa di Universitas Jember. Sejak masuk Fakultas Ekonomi Unej terus berkiprah di organisasi ektra mahasiswa HMI (Himpunan Mahasiswa Islam}. Menduduki jabatan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Jember Komisariat Ekonomi Periode tahun 1995 – 1996. Menjadi  Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Jember Periode tahun 1998 – 1999.  Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Nasional (PPN) Pengurus Besar HMI periode tahun 2000 – 2002

Saat menjadi Ketua Umum HMI Cabang Jember  dalam periode 1998, saat itu situasi poilitik  sedang mengalami perubahan besar dari Orde Baru ke Orde Reformasi yang ditandai dengan kepemimpinan dari Rejim Soeharto ke transisi presiden JB Habibie.  Sangat berpengaruh pada kehidupan organisasi HMI, khususnya HMI Cabang Jember. ‘Saya lebih lama tahun periode menjabat Ketua Umum Cabang karena pengaruh situasi saat itu”, jelas Sarmuji.

Bahkan gerakan aktivis mahasiswa Jember menjadi barometer di tingkat nasional. Ada peristiwa demo mahasiswa di Alon-Alon saat itu yang sempat membawa korban jiwa ternyata juga menjadi prediksi tragedi menjalar ke tingkat nasional. Ada aktivis  partai di Jember bernama Cak Ludiro selalu  mendorong gerakan mahasiswa untuk tampil paling depan dalam berbagai aksi demonstrasi.

Rentang waktu yang cukup panjang selama sepuluh tahun, Sarmuji menjadi aktivis HMI dari tahun 1992 hingga tahun 2002  membuat dirinya kenyang  dan matang dengan pengalaman gerakan mahasiswa. Lebih-lebih saat ekalasi gerakan mahasiswa sedang mengalami puncaknya di tahun 1998-1999, saat itu Sarmuji menjabat Ketua Umum HMI Cabang Jember. Dapat dikatakan sebagai poros penentu dalam gerakan aksi massa di Jember. Dia masih ingat bagaimana selaku  Ketua Umum HMI Cabang Jember turun ke jalan sebagai pionir  mengibarkan bendera HMI bergabung dengan aktivis elemen yang lain.

Menurut  Sarmuji, Gerakan aksi mahasiswa militan  saat itu tumbuh dengan subur, bukan hanya di kalangan organisasi ektra semacam HMI, PMII, GMNI, PMKRI, tapi juga di Jember muncul kelompok-kelompok berupa forum aktivis dan kelompok diskusi. Tempatnya bisa di warung-warung kopi menjadi tongkrongan mahasiswa berdiskusi dari minum segelas kopi membahas persoalan bangsa baru selesai hingga pagi hari. Tentu saja suasana gerakan aktiivis mahasiswa di Jember saat itu sangat berbeda dengan situasi dan kondisi lingkungan kampus Unej di Tegalboto saat ini. Sekarang munculnya kafe-kafe di lingkungan kampus Tegalboto lebih cenderung untuk kuliner mahasiswa untuk makan kenyang dibanding untuk tempat diskusi memperbincangkan persoalan bangsa.

Tokoh aktivis mahasiswa Unej juga sudah banyak yang  tampil memimpin organisasi mahasiswa ditingkat nasional. Tercatat beberapa nama menjadi ketua Presedium dan Ketua Umum Pengurus Besar di Jakarta. Tampilnya nama Kristiya Kartika dari Fakultas Hukum Unej  menjadi ketua Presedium GMNI dalam Kongres X di Salatiga tahun 1989 dan Hari Wardono yang juga Fakultas Hukum Unej sebagai Sekjen. Kemudian Hari Wardono naik menjadi ketua Presedium saat  Kongres XI di Malang tahun 1992. Kemudian ada nama Ali Masykur Musa aktiis mahasiswa asal Fisip Unej terpilih menjadi Ketua Umum PB PMII 1991-1994. Sedangkan Taufik Hidayat aktivis mahasiswa Fisip Unej terpilih Ketua Umum PB HMI 1995-1997 dalam Kongres ke 20 di Surabaya pada 29 Januari 1995.

Tokoh-tokoh aktivis pendahu dari mahasiswa Unej  menjadi inspirator bagi Sarmuji. Mereka mampu menapaki karir organisasi di tingkat Presedium atau Pengurus Besar. Jalur vertikal menduduki posisi puncak di tingkat Pengurus Besar akan membuka peluang dan kesempatan berkembang potensi diri  dan berkiprah dalam arena yang lebih luas.   Sarmuji mendudki posisi Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Nasional (PPN) Pengurus Besar HMI periode tahun 2000 – 2002

Menduduki posisi Ketua bahkan Ketua Umum di berbagai level organisasi ektra kemahasiswaan seperti HMI bukan hal yang mudah bagi seorang aktivis. Bagi seorang Sarmuji banyak menghdapai berbagai tantangan, soal waktu pikiran dan tenaga. Kompetisi antar aktivis internal HMI juga sangat ketat  Selain kemampuan jiwa leadershipnya yang teruji juga memiliki basis massa di lingkungan kampus. Belum lagi HMI meski berasaskan Panasila tapi landasan keislamannnya juga harus kuat karena salah satu dasar nilai perjuangannya adalah menjadi intelektual muslim insan cita  .

 

Pergulatan secara  inten Sarmuji sebagai Kader HMI  membuat dirinya matang bukan hanya sebagai aktivis organisasi tapi juga merupakan gambaran bagaimana seorang kader HMI memahami Islam sebagaimana tercantum dalam al-Quran. Secara doktrin, yang terkandung dalam nilai dasar perjuangan bukanlah ajaran yang bertentangan dengan Islam, melainkan merupakan formulasi kembali atas al-Quran sehingga tertuang menjadi suatu kepribadian bagi kader HMI dalam mewujudkan amanat Tuhan sebagai khalifah fil-ardhi.

Meski statusnya masih menjadi mahasiswa, Sarmuji dan teman-teman aktivis secara kolektif  mampu berperan sebagai penekan dengan melakukan aksi turun ke jalan dalam mewujudkan reformasi.  Dalam catatan sejarah  dapat  melihat perilaku kolektif mahasiswa pada masa pra hingga bergulirnya reformasi pada tahun 1998.

Secara  sosiologis, perilaku kolektif adalah tindakan-tindakan yang tidak terstruktur dan spontan dimana perilaku konvensional (lama) sudah tidak dirasakan tepat atau efektif. Menyadari bahwa perguruan tinggi dan lembaga pemerintah tidak dapat diharapkan, sebagian mahasiswa coba menciptakan ruang-ruang berkembangnya sendiri. Mereka kemudian memilih untuk melakukan aktifitas mereka diluar kampus. Selain membentuk kelompok-kelompok diskusi, mahasiswa juga membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menangani berbagai isu-isu sosial.

.           Dalam melihat fenomena ini, dapat  melakukan pembagian lima kelompok mahasiwa dalam merespon kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya yang ada di masyarakat. Pertama adalah kelompok idealis konfrontatif, dimana mahasiwa tersebut aktif dalam perjuangannya menentang pemerintah melalui aksi demonstrasi. Kedua, kelompok idealis realistis adalah mahasiwa yang memilih koperatif dalam perjuangannya menentang pemerintah. Ketiga, kelompok opportunis adalah mahasiswa yang cenderung mendukung pemerintah yang berkuasa. Keempat adalah kelompok profesional, yang lebih berorientasi pada belajar atau kuliah. Terakhir adalah kelompok rekreatif yang berorientasi pada gaya hidup yang glamour.

Lalu bagaimana kelompok-kelompok mahasiswa tersebut dapat bergerak dalam menggulirkan sebuah perubahan sosial di Indonesia? Pada masa itu muncul conscience collective, kesadaran bersama dimana mahasiswa merupakan satu kelompok yang harus bersatu padu. Dalam kondisi perilaku kolektif, terdapat kesadaran kolektif dimana sentimen dan ide-ide yang tadinya dimiliki oleh sekelompok mahasiswa yang menyebar dengan begitu cepat sehingga menjadi milik mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya. Kekecewaan dan ketidakpuasan mahasiswa terhadap pemerintah disambut oleh masyarakat yang menjadi korban dari sistem yang ada. Aksi dari mahasiswa kemudian direspon oleh masyarakat melalui secara sukarela memberikan dukungan kepada para mahasiswa yang sedang mengadakan demonstrasi.

Gerakan mahasiswa pada tahun 1998-tepatnya bulan Mei-cenderung pada perilaku komunitas  aksi mahasiswa  dalam bdentuk aksi demonstrasi mereka lakukan secara terus menerus dengan mengandalkan mobilisasi massa.  Tuntutan gerakan mahasiswa sendiri pada pasca kejatuhan rejim Orde Baru cenderung pada perubahan sistem politik dan struktur pemerintahan.

Tahun 1998 menjadi satu catatan tersendiri dalam sejarah perubahan di Indonesia. Dilatarbelakangi krisis ekonomi yang berkepanjangan dan berlanjut menjadi krisis multi-dimensi, sebuah usaha perubahan sosial yang dimotori oleh gerakan mahasiswa yang didukung oleh kesadaran bersama dari para mahasiswa.  Momen ini kemudian berkembang menjadi suatu gerakan bersama yang menuntut perubahan dibeberapa bidang, khususnya sistem pemerintahan

Sarmuji dari aktivis lokal Jember melakukan lompatan  berkiprah di tingkat nasional ketika menjabat salah satu ketua  PB HMI Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Nasional (PPN) Pengurus Besar HMI periode tahun 2000 – 2002. Awalnya aktif di AMPG  (Angkatan Muda Partai Golkar) salah satu  organisasi  sayap partai Golkar. Dari 2003 hin gga 2010 sempat menjadi wakil Sekjen hingga Sekjen AMPG. Dari organisasi sayap Golkar inilah awal tangga Sarmuji dalam dunia politik praktis di partai Golkar Bahkan Sarmuji juga dipercaya menjadi koordinator staf ahli fraksi Golkar di DPR RI.

Saat Sarmuji di AMPG, Keua Umum PP AMPG dijabat oleh Yoriys TH Raweyai dalam bsberapa periode kepengurusan dari tahun 2005-2009 dan periode 2009-2014. Sementara Sarmuji menjabat sebagai wakil Sekjen kemudian Sekjen di periode kepemimpinan Yorys sebagai Ketua Umum AMPG. Tidak heran bila dalam dunia politik praktis kepartaian ini Sarmuji banyak belajar dan dapat bimbingan dari Yorys. Apalagi Yorys salah satu figur penting yang cukup berpengaruh di partai Golkar. Bahkan Yorys selain pengurus DPP juga sempat menjadi Wakil Ketua Umum DPP Golkar hasil Munas Ancol 2015.

Dapat dikata Yorys adalah guru ideologis Sarmuji dalam menapaki karir politik di kepartaian, khususnya  di partai Golkar. Meski sebetulnya Sarmuji yang berangkat dari aktivis HMI seharusnya  lebih dekat guru ideologisnya adalah Akbar Tanjung. Sebab Akbar Tanjung selain mantan Ketua Umum PB HMI juga pernah menjabat Ketua Umum Partai Golkar, selain menjabat beberapa kali pos menteri era presiden Soeharto.

Sarmuji banyak belajar selama aktif dan berkiprah di HMI.Momentum di HMI ini tidak ia sia-siakan untuk lebih serius mempelajari tentang dunia politik yang selama ini dipersepsikan masyarakat sebagai ‘dunia kotor’. Ia juga menjadikan organ ekstra ini sebagai momentum untuk memperluas jaringan. Tidak hanya tokoh lokal tapi tokoh nasional pun tak dilewatkannya.

Pengalaman di organisasi ekstra kampus dan jaringan yang sudah dikantongi itu, kemudian dijadikan modalnya untuk masuk organisasi nasional kepemudaan sayap partai Golkar Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI). Di organ sayap Golkar ini, ia kemudian di daulat menjadi Wasekjen AMPI periode 2003-2008 dan kemudian menjabat posisi Sekjen,

“Saya masuk di situ menjadi penyokong, lebih banyak diperankan dalam hal-hal konseptual, kemudian menjadi sekjen DPP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) pada 2010-2015,” pungkasnya.

Kesederhanaan dan menjaga etika dalam bergaul serta kerja kerasnya di dua organisasi sayap Partai Golkar itu membuat Sarmuji semakin dipercaya. Ia kemudian ditarik menjadi Tenaga Ahli Fraksi Partai Golkar pada 2007-2013.

Tak lama menjadi Tenaga Ahli, ia kemudian di calonkan menjadi calon anggota Legislatif Daerah Pilihan (Dapil) Jatim VI. Mengantongi nomor urut satu, Sarmuji kemudian melanglangbuana ke Senayan setelah memperoleh suara terbanyak. Kalahkan rival politik internal, caleg dari Golkar lainnya di Dapil yang meliputi Kabupaten Blitar, Kediri, Kabupaten Tulungagung, Kota Blitar, dan Kota Kediri tersebut.

Terpilihnya ia sebagai anggota DPR RI ini sebenarnya tak lepas dari ketekunan ia dalam bekerja, berdoa, visi dan misinya yang akan diperjuangkan untuk masyarakat luas. Apalagi ada sandaran ideologis teologis menjadi pemantik semangat untuk mengubah persepsi masyarakat tentang ‘politik kotor’ menjadi persepsi politik bersih, rapi, beretika dan politik sebagai kekuatan menolong.

“Sandaran ideologis dan teologis yang menyebabkan saya semakin mantap masuk dunia politik. Sandaran teologisnya itu di inspirasi oleh salah satu ayat di dalam Al-Qur’an, yakni surat Al-Isro.

Baginya, ayat dalam kitab suci Al Qur’an tersebut menginspirasi dirinya untuk kemudian dijadikan kekuatan politik untuk menolong dalam memperjuangkan kebijakan-kebijakan politik yang akan ia tempuh di parlemen. Tak tanggung-tanggung dan untuk menghindari sifat lupa dari sandaran ideologis teologis itu, ia kemudian menempelkan ayat tersebut pada nama putra pertamanya.

Anaknya  dikasih nama Muhammad Sutojoyo Sulthana Nashir, yang berasal dari kata Sulthana Nashira, yang artinya kekuatan yang menolong.  “Saya abadikan ayat itu menjadi nama anak saya sehingga kalau saya agak lupa,  ketika ingat nama anak saya, mudah-mudahan saya teringat lagi misi saya masuk dunia politik untuk menolong,” jelas

Ada persepsi dari masyarakat yang menuturkan, bahwa politik itu adalah kotor. Menurut Sarmuji, biarkanlah persepsi tersebut. Jangan sampai persepsi politik kotor itu kemudian menjadi pembenar langkah kotor yang dilakukan oleh para politikus.  Sebaliknya, ia pun berharap agar persepsi masyarakat tentang politik kotor diubah menjadi persepsi politik mulya dan suci.

“Sehingga orang yang masuk dalam dunia politik harus memiliki prasyarat kemuliaan. Visi yang baik adalah tujuan yang utama. Saya berharap begitu. Tapi karena kondisi faktualnya persepsi politik adalah kotor. Sebenarnya kalau kita mengembangkan ide-ide yang baik pasti ada sesuatu di balik itu,” pungkas dia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close