Tak Berkategori

PMII Jember Memberi Rapot Merah  Kepeminpinan bupati H Hendy – Gus Firjaun.

BAGIAN PERTAMA.


ΦJEMBER-VIRALKATA.COM:
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Cabang Jember, memberikan catatan atau rapat merah kepada 1 tahun kepemimpinan bupati H Hendy dan wakilnya Gus Firjaun.

CATATAN MERAH
Siaran pers yang ditanda tangani ketua umum PMII Cabang Jember,
Mohammad Faqih Alharamain, tersebar di kalangan jurnalis pada Selasa (8/03/2022). Ada catatan merah sepanjang kedua pemimpin itu menjalankan roda pemerintahan di Pemkab Jember. Banyak catatan merah dan persoalan yang muncul, tidak ada satu catatan tentang prestasi, sebaliknya justru muncul masalah dan persoalan yang menyertai selama bupati H Hendy memimpin Jember, dilantik menjadi bupati Jember 26 Februari 2021.

Gubernur Provinsi JawaTimur Khofifah Indar Parawansa resmi melantik pasangan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Jember,H.Hendy Siswanto dan
K.H. MB Firjaun Barlaman sebagai pasangan terpilih untuk memimpin Kabupaten Jember hingga tahun 2024.

Tepat pada tanggal 26 Februari 2022, mereka telah melaksanakan amanah luhur yang telah di berikan oleh rakyat selama 1 tahun penuh. Seperti yang telah kita ketahui bersama, Kabupaten Jembermerupakan wilayah yang menyimpan segudang sumberdayaalam unggulan. Kabupaten Jember dalam RPJMD Provinsi Jawa Timur merupakan wilayah dengan proyeksi pembangunan di sektor Agrowisata.

Pada tahun 2021 lalu, Kabupaten Jember secara resmi memiliki pemimpin baru. Pasca konflik politik yang begitu rumit dan menyita perhatian publik pada periode sebelumnya. Pasangan terpilih telah bersedia dengan sadar dan insyaf untuk segera menyelesaikan problematika yang ada termasuk problematika pada beberapa sektor sebagai implikasi konflik politik tersebut. Hadir denganslogan“WesWayaheMbenahiJember”dan“JemberKueren”,pasangan terpilih muncul dihadapan publik dengan membeberkan sejumlah janji politik pada saat kampanye dan pada hari ini, pasca satu tahun bupati dan wakil bupati menjalankan kepemimpinannya, masih cukup banyak problem yang belum terselesaikan.

SATU TAHUN DALAM KEGELAPAN.

PMII melihat bagaimana satu tahun bupati H Hendy/Gus Firjaun ibarat dalam kegelapan.
Belum lagi dengan beberapa kebijakan baru yang lahir disertai kontroversi, sehingga menjadikan Jember Satu Tahun Dalam Kegagapan Kebijakan”, ungkap PMII.

Pada awal-awal kepemimpinan bupati dan wakil bupati, orang-orang berduyun-duyun menyaksikan pembangunan infrastruktur berupa jalan dan lampu PJU. Ironisnya, jalan-jalan kota yang masih terlihat bagus diaspal kembali sedang jalan-jalan rusak didesa-desa dibiarkan dan hingga hari ini, nyatanya masih ada masyarakat yang mengeluhkan akses rusak yang menghubungkan antar dusun.

Belum lagi kontroversi Proyek Multiyears yang dianggarkan pada tahun 2021 sedang pelaksanaannya pada tahun 2022. Hanya dalam hitungan bulan, pada persoalan lain, pemerintah Kabupaten Jember mendapatkan penolakan atas perubahan APBD 2021 sebagai akibat keterlambatan pengajuan kepada pemerintah provinsi, ancaman SiLPA tinggi, dan berdampak pada perencanaan yang terhimpit waktu.

ANCAMAN SILPA

Pada persoalan Guru Tidak Tetap (GTT), terjadi keterlambatan penyaluran gaji hanya karena persoalan administrative terhitung sejak tahun 2022. Nasib para guru tersebut ternyata tidak lebih penting dari pada syarat formal dalam logika birokrasi.Sekalipun halitu adalahal yang
harus dilalui, akan tetapi mengapa para pejabat pemerintahan yang merupakan lulusan sarjana tidak segera mengantisipasi hal itu.

Persoalan yang serupa juga terjadi pada gaji guru honorer, dimana terdapat kesenjangan antara Guru Honorer yang berada di sekolah negeri dan Guru Honorer yang berada di sekolah swasta. Diketahui berdasakan SK gaji guru honorer yang berada di sekolah negeri mencapai Rp. 1.200.000 berbanding jauh dengan guru honorer yang berada di sekolah swasta yang hanya berkisar Rp. 200.00 s/d Rp. 300.000. ini masih menjadi pandangan hangat di wilayah tenaga pengajar karena cenderung mendekotomi pengajar berdasarkan label lembaga.

Belum lagi janji 25.000 beasiswa untuk mahasiswa yang selama tahun 2021 hanya terealisasi sebanyak 5.000 beasiswa dari keseluruhan kampus yang ada di wilayah Jember.

MIMPI BERLEBIHAN
Pada sektor pertanian, bupati dan wakil bupati pada saat kampanye menyodorkan sejumlah solusi dan mimpi yang “berlebihan” dalam pembangunan sektor pertanian. Tegas dan lugas bupati menyampaikan visi dan janji politiknya“Menjadikan Jember Sebagai pusat komodiatas pertanian ditingkat nasional dan internasional, mensejahterakan dengan menjaga ketersediaan pupuk sepanjang tahun dan menjadi stabilitator harga han asil tani padi di pasar”.

Nyatanya, hingga hari ini, masyarakat masih mengeluhkan kelangkaan pupuk di daerah mereka. Pemerintah menjadikan pupuk Organik sebagai solusi dengan janji (Pembangunan pabrik pupuk organik disetiap kecamatan namun tidak diimbangi dengan kontrol dan manjemen yang baik, sehingga begitu pupuk subsidi tidak memenui kebutuhan saprodi petani, pupuk organik yang dicanangkan tidak tersedia, akibatnya pupuk mulai langka dan kemudian menjadi lebih mahal, sehingga memaksa petani untuk menambah input produksi untuk memnuhi kebutuhan pupuk.

Kemudian,wacanauntukmenjadikan sektorpertanian Jember sebagaipusatkomoditas di tingkat nasional hingga internasional tidak dibarengi dengan kejelasan agenda setting pemerintah selamaini.

Pembiaran aktvitas-aktivitas ekstraktif yang keberadaannya mengancam sektor pertanian, serta minimnya intervensi pemerintah dalam hal inovasi, pengembangan manajemen dan penguatan pasar.

JANJI POLITIK MANA?

Belum lagi ada ada janji politik“1.000 Rumah Murah”yang kemudian publik menyebutnya proyek properti semakin meresahkan karna kecenderungan logis dari proyek tersebut adalah pengalih fungsian lahan,
Publik kembali diriuhkan dengan pergantian komoditas buah naga yang menuai kontroversi serta desas-desus adanya bibit oligarki di dalamnya menjadi catatan tersendiri pada kepemimpinan bupati dan wakil bupati yang terlihat “gelagapan” menghadapi kompleksitas persoalan di Kabupaten Jember.

KONTROVERSI BUAH NAGA JADI KELENGKENG.
Tindakan tersebut cenderung sebagai tindakan perusakan aset pemerintah daerah yang dimotori langsung oleh Bupati Jember, Ir. H. Hendy Siswanto, ST.
IPU,

Ir.Imam Sudarmaji selaku Kepala DinasTanaman Pangan,Hortikultura,dan Perkebunan selaku Pengguna Barang, Jupriono, ST selaku Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga.

KONTROVERSI BUAH NAGA JADI KELENGKENG.
Tindakan tersebut cenderung sebagai tindakan perusakan aset pemerintah daerah yang dimotori langsung oleh Bupati Jember, Ir. H. Hendy Siswanto, ST.
IPU,Ir.Imam Sudarmaji selaku Kepala DinasTanaman Pangan,Hortikultura,dan Perkebunan selaku Pengguna Barang, Jupriono, ST selaku Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marg (Bersambung/red/gih)¸æ

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close