HUKUM & kRIMINALNASIONALNEWS

Muji Hananik siap perangi BPR Gracia Mandiri dan KPKNL

Jakarta-Viralkata

Muji Hananik terpaku sesaat depan rumahnya. Harta warisan orangtua itu, akan dilelang bulan januari tahun ini, oleh Kepala Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Jakarta 1 (KPKNL Jakarta 1), atas permintaan BPR Gracia Mandiri. Hal ini akibat ulah Rini, yang kini hilang tanpa diketahui rimbanya.

Tak menyangka bakal menjadi masalah di kemudian hari, Muji tidak habis pikir kebaikan yang diberikan pada Rini, berakhir dengan lelang rumahnya oleh Kepala Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Jakarta 1 (KPKNL Jakarta 1) alias Balai Lelang Negara atas permintaan BPR Gracia Mandiri, Bekasi.

Kesedihan menjadi hari-hari dalam hidupnya kini. Stres setiap hari menjadi teman hidupnya kini. Apalagi menjelang waktu lelang kian mendekati eksekusi untuk rumahnya segera dikosongkan.

“Upaya telah saya lakukan. Bahkan uang pinjaman dari BPR Gracia Mandiri tidak saya nikmati, tapi saya yang harus bertanggungjawab. Padahal dari pihak BPR Gracia Mandiri tahu bukan saya yang pakai uang tersebut,” jelas Muji mengenai rumah warisan orangtuanya yang di sertifikat telah diatasnamakan namanya.

Dijelaskan Muji, banyak penyimpangan terjadi pada proses peminjaman yang dilakukan oleh pihak BPR Gracia Mandiri. Sehingga berdampak pada kerugian yang kini dialaminya saat ini.

Salah satunya proses peminjaman dilakukan oleh Rini. Dengan alasan dari Rini, memiliki jalur khusus dengan pihak BPR Gracia Mandiri, dapat diproses cepat tanpa berbelit-belit.

Dan terbukti hanya dua hari pinjaman atas namanya senilai 600 juta bisa dicairkan. Dan itupun tanpa proses survey lebih dulu, yang umumnya dilakukan pihak pemberi pinjaman.

“Lucunya saat saya diajak Rini mengambil uang pinjaman yang disetujui Gracia Mandiri, malah dikasih 3 lembar cek oleh direkturnya waktu itu, Ramsius, dengan nilai nominal berbeda-beda tiap lembar cek nya. Sementara saya sudah kasih nomer rekening saya, dan tercantum dalam surat perjanjian, seluruh dana pinjaman di transfer ke rekening saya,” kenang Muji.

DIAKUI MUJI KEMAMPUAN RINI MEYAKINKAN DIRINYA, TERMASUK PENDEKATAN BAHASA RAMSIUS BAHWA HAL ITU TIDAK MENYALAHI ATURAN, MENJADIKAN MUJI AKHIRNYA TANDA TANGAN PEMINJAMAN. TERMASUK SEPENGETAHUAN RAMSIUS BAHWA RINI AKAN MENGGUNAKAN DANA UANG TERSEBUT, UNTUK BISNIS CATERING UNTUK DI SUPLAI KE PERUSAHAAN DI PUWAKARTA.

“Dari 3 lembar cek itu, salah satu ceknya saya cairkan senilai 110 juta. Cek senilai 20 juta dikatakan Rini untuk pihak BPR, dan dipegang oleh Rini. Begitu juga cek satunya lagi senilai 470 rupiah dibawa Rini dan dicairkan oleh orangnya ke rekening milik Rini,” jelas Muji.

Muji menganggap ucapan Rini dapat dipegang. Meski di kemudian hari temannya itu, pergi tidak diketahui rimbanya kini, setelah terjadi masalah antara Muji dengan BPR Gracia Mandiri.

“Saya sudah jelaskan sama pak Ramsius, kalau Rini yang bertanggungjawab membayar cicilan setiap bulan ke BPR Gracia Mandiri. Karena terbukti dia (Rini) bayar cicilannya, membuat saya percaya. Dan tidak menaruh curiga soal cicilan menjadi masalah nantinya. Sampai akhirnya pihak BPR memberi peringatan ke saya soal keterlambatan membayar cicilan sangat banyak,” kenang Muji seraya dirinya dijanjikan Rini bertanggungjawab mengembalikan lagi sertifikat rumah pada Muji dengan membayar seluruh utang ke BPR Gracia Mandiri.

Sejak itu, Muji sulit bertemu dengan Rini. Bahkan nomer telponnya berganti dengan nomer baru. Hal ini membuat Muji mengeluhkan permasalahan yang dihadapinya pada Ramsius.

“Anehnya lagi, kok dengan pihak BPR Gracia Mandiri (Ramsius) bisa Rini dihubungi. Malah Rini membayar senilai uang kata Ramsius, dengan catatan dilakukan Rekstrusiasi peminjaman ulang. Aneh sih. Dan terbukti cara mereka itu, akhirnya menjebak saya seperti ini,” papar Muji.

Karena itu, Rini menyoalkan masal kmahnya ke Polres Bekasi, yang kemudian berlanjut di Pengadilan Negeri Cikarang dengan nomor perkara no. 180/ Pdt.G/2022/PN Cikarang. Namun dalam proses sidang, pihak BPR Gracia Mandiri memaksa KPKNL alias Balai Lelang Negara untuk menjual lelang rumahnya yang menjadi pinjaman di BPR Gracia Mandiri.

“Setahu saya kalau sengketa masih dalam persidangan, harus tunduk pada hukum. Tidak boleh pihak manapun melawan sebelum diputuskan hakim pengadilan. Tapi kenyataannya mereka masih nekat menjual rumah saya,” sedih Muji.

Bahkan Muji juga mencegah dengan kembali laporannya ke Polda Metro Jaya. Tetap tidak dianggap pihak KPKNL untuk melakukan pembatalan lelang. Padahal laporannya dari Polda Metro Jaya sudah diberikan ke pihak KPKNL.

“PIHAK KPKNL BILANGNYA PERMINTAAN PEMBATALAN LELANG OLEH PIHAK KREDITUR, DALAM HAL INI HARUS DIAJUKAN OLEH BPR GRACIA MANDIRI KE KPKNL. SEMENTARA SAYA MINTA KE BPR GRACIA MANDIRI TIDAK DIGUBRIS. MALAH SAYA DIMINTA BAYAR LUNAS PINJAMAN SAAT ITU,” KALI INI MUJI TIDAK MAMPU MENAHAN AIRMATANYA.

Diakui Muji, tidak mungkin dirinya karyawan di sebuah rumah sakit swasta, membayar lunas pinjaman saat itu. Apalagi uang yang harus dibayarkan berikut bunga dan utang pokok. Kemampuannya memberanikan diri mencicil dengan cash keras tidak digubris oleh pihak BPR Gracia Mandiri.

“Saya sudah berusaha minta bantuan keluarga membayar rumah saya agar tidak dilelang dengan cash keras. Tapi tetap tidak dianggap. Mereka (BPR Gracia Mandiri) sudah tidak manusiawi lagi. Sangat jahat,” ungkap Muji penuh emosi.

Apalagi pola yang dilakukan BPR Gracia Mandiri, turut bermain sebagai peserta lelang juga, untuk ikut membeli rumahnya itu. Sehingga Muji melihat ada kepentingan yang dilakukan BPR Gracia Mandiri pada dirinya.

“Pihak BPR Gracia Mandiri Bilangnya nanti setelah Rumah Saya sudah dibeli Mereka , urusan Saya  membeli  kembali  rumah saya  langsung kemereka . tapi mereka menaikan  harganya , karena  ingin  cari untung ,” Jelas Muji  terdiam  beberapa  Saat meluap  Tangisnya. Tuturnya .(PRAY)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close