HEADLINENASIONALNEWS

KESIAPAN SEKOLAH MENGHADAPI KENORMALAN BARU DALAM PEMBELAJARAN

JAKARTA -VIRALKATA.COM :Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) melakukan survei nasional yang respondennya adalah para guru, kepala sekolah, dan manajemen sekolah (yayasan) Terkait bagaimana kesiapan sekolah dalam menghadapi kenormalan baru dalam pembelajaran.

Pandemi Covid-19 mengubah sistem pendidikan dan pembelajaran khususnya di sekolah. Selama hampir 3 bulan, sekitar 68 juta siswa di Indonesia (data Bank Dunia, 2020) melaksanakan pembelajaran di rumah atau dikenal Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Belajar Dari Rumah (BDR). Metode baru ini mengubah pola interaksi antara guru dan siswa termasuk orang tua.


Satriwan Salim, Wasekjen FSGI mengatakan bahwa kebergantungan kepada gawai, laptop, jaringan internet plus kuota, dan listrik menjadi ciri khas metode ini. Di sisi lain terjadi bias pelayanan pendidikan, yang mengorbankan para siswa yang tidak mampu. Karena kesulitan dalam mengakses gawai, laptop, jaringan internet plus kuota, dan listrik. Sehingga PJJ lebih terlihat berpihak pada siswa dari keluarga mampu.

Walaupun Kemdikbud dan Kememang bersama Pemerintah Daerah memberikan kelonggaran pembiayaan melalui Dana BOS yang bisa direalokasikan untuk para siswa dan guru agar memenuhi kebutuhan kuota/data.

Satriwan memaparkan, kenormalan baru atau dikenal new normal adalah keniscayaan dan harus dihadapi oleh semua negara sampai ditemukannya vaksin covid-19. Namun beberapa minggu terakhir, pelaksanaan kebijakan kenormalan baru ini menimbulkan perdebatan publik dikaitkan dengan berbagai kekhawatiran lapisan masyarakat, khususnya para orang tua; guru; dan siswa.

Yaitu persoalan kesiapan negara (pemerintah) menjamin keamanan pada para peserta didik yang nota bene berusia anak (di bawah 18 tahun menurut UU Perlindungan Anak), seandainya Satuan Pendidikan (sekolah) dibuka kembali pada kalender tahun ajaran baru 2020/2021 yang sudah diputuskan pemerintah dimulai pada 13 Juli 2020.

Satriwan sampaikan, para orang tua resah, khawatir, dan cemas, karena data terakhir menunjukkan masih tingginya angka penambahan kasus baru pasien Covid-19, khususnya di usia anak.

Menurut data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) per 18 Mei 2020: Terdapat 3.324 anak yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP); sebanyak 129 anak berstatus PDP meninggal dunia; sementara jumlah anak yang sudah terkonfirmasi positif COVID-19 berjumlah 584 anak; kemudian 14 anak diantaranya meninggal dunia dengan status positif virus corona.

“Info terbaru, angka kematian anak yang diduga terkait virus corona juga meningkat, setidaknya ada 160 anak dinyatakan meninggal dunia dengan status PDP. Sedangkan jumlah kematian anak pasien COVID-19 di Indonesia per 1 Juni 2020 menurut catatan IDAI telah naik menjadi 26 orang,”Ucapnya melalui jaringan telepon media sosial Whatsapp, Selasa, 16/06/2020.

Satriwan katakan, berdasarkan fakta-fakta di atas, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) sebagai entitas organisasi profesi guru, memiliki kepentingan, perhatian khusus, dan kepedulian terkait persoalan ini.

Maka dari itu FSGI melakukan survei nasional yang respondennya adalah para guru, kepala sekolah, dan manajemen sekolah (yayasan). Terkait bagaimana kesiapan sekolah dalam menghadapi kenormalan baru dalam pembelajaran.

Hasil survey yang diterima FSGI seandainya sekolah dibuka kembali di zona hijau diantaranya, pertama sebanyak 89% atau 1.476 responden menjawab komponen utama yang dibutuhkan adalah adanya Protokol Kesehatan yang dibuat oleh Pemerintah Pusat dan Daerah.

Kedua, sebanyak 79,2% atau 1.311 responden menjawab komponen utama yang dibutuhkan adalah sosialisasi kepada orang tua dan siswa. Ketiga, sebanyak 75,4% atau 1.249 responden menjawab komponen utama yang dibutuhkan adalah kesiapan aturan teknis di sekolah seperti pengaturan jam belajar, shift, jadwal guru, pembagian kelas, pemakaian masker, tata tertib new normal, pengaturan kantin, Dan seterusnya.

Keempat, kesiapan Guru, seperti kesiapan mental, pelatihan guru, kesiapan ikut rapid test atau tes swab (71,1%). Dan yang kelima, kesiapan sarana-prasarana atau infrastruktur sekolah yang mendukung kenormalan baru, seperti: wastafel tiap ruangan, masker, sabun atau hand sanitizer yang lengkap di ruangan-ruangan, kesiapan UKS, pembatas antarmeja siswa, Dan seterusnya (69,8%).

Saya berharap hasil survei ini bisa menjadi masukan yang penting, fundamental, dan strategis bagi pemerintah. Beberapa rekomendasi akan kami berikan kepada pemerintah: Kemdikbud; Kemenag; dan Pemda, sebagai pijakan atau pertimbangan dalam membuat kebijakan membuka sekolah kembali dengan kenormalan baru.,”Ucapnya.

Semoga kebijakan kenormalan baru di sekolah nanti, tetap dengan prioritas utama yaitu kesehatan dan keselamatan para siswa, guru, serta warga sekolah lainnya. Demi keberlangsungan pembelajaran yang berkualitas, agar wajah pendidikan di tanah air makin membaik, menutup pembicaraan.
— Jalie –

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close