FIGURHEADLINENASIONAL

Ir Yahya Taufik : Bekerja Perlu Istiqomah

 

SURABAYA-VIRALKATA.COM-Ir. Yahya Taufik, masa kecil hidup di Besuki Sitobondo, bersama kedua orang tuanya mengelola sebuah toko. Sejak kecil sudah ikut berdagang bahkan menjalankan bisnis hingga akhirnya masuk kuliah Faperta Unej angkatan tahun 1983. Saat menjalani kuliah di Faperta, dia masih terus berbisnis, sampai akhirnya lulus menjadi sarjana pertanian. Saat ini dekenal sebagai salah satu pemilik  sebuah holding perusahaan  Saraswanti Group yang bergerak di bidang produksi pupuk, perkebunan bahkan kini merambah ke bisnis properti. Tidak main-main, di bawah kepemimpinannya, Saraswanti Group berkembang pesat hingga kini memiliki asset sebesar 4,2 trilyun rupiah lebih.

“Saya sudah mulai berbisnis sejak duduk di bangku SMP. Saat itu setiap bulan Agustus, saya menawarkan seragam Hansip kepada Pak Camat. Kebetulan orang tua saya punya toko,” tutur Yahya. Lingkungan keluarga yang mendukung tumbuhnya jiwa wirausaha, diakui oleh Yahya Taufik berpengaruh terhadap pilihannya menjadi pengusaha. Bahkan saat dirinya duduk di semester enam di Fakultas Pertanian, Yahya Taufik menjadi penyuplai bahan material dan bahan bangunan bagi pembangunan kampus Politeknik Negeri Jember. Padahal saat itu dirinya sibuk kuliah, bahkan menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Fisika Dasar. “Kalau sudah hari Sabtu harus putar otak mencari cara membayar material, bahan bangunan dan tukang. Tetapi justru tantangan ini menuntut kita untuk menjadi orang yang kreatif, dan kreativitas ini adalah modal menjadi pengusaha,” tambahnya.

Cita-cita untuk memiliki usaha sendiri terus membara bahkan saat dirinya bekerja di PT. Polowijo Gosari, Gresik di tahun 1991 hingga 1998. Akhirnya dengan modal kepercayaan, Yahya Taufik bersama beberapa temannya mendirikan PT. Saraswati Anugerah Makmur yang memproduksi pupuk. “Pilihan memproduksi pupuk karena saya yakin Indonesia yang merupakan negara agraris, pasti membutuhkan pupuk,” katanya. Ternyata pilihan Yahya Taufik tidak keliru, pupuk NPK produksinya diterima oleh pasar, bahkan berkembang pesat. Berawal dari satu pabrik pupuk, kini perusahaannya memiliki delapan pabrik yang tersebar di Mojokerto, Palembang hingga Medan. Tidak hanya bergerak di bidang produksi pupuk, kini Yahya Taufik merambah bisnis perkebunan, jasa laboratorium, aneka usaha bahkan property perumahan dan hotel.

Bapak empat anak hasil pernikahan dengan Rhodiyah Hasan ini, saat tampil orasi dihadapan wisudawan Unej  mendorong  agar berani untuk berwirausaha. Sebab jumlah wirausaha dalam satu negara berkorelasi erat dengan tingkat kemakmuran dan kemajuan sebuah bangsa. “Jumlah wirausaha di Indonesia masih minim, hanya 1,7 persen dari total penduduknya, bandingkan dengan negara-negera seperti Amerika Serikat yang memiliki jumlah pengusahanya sudah mencapai 12 persen, Jepang dan China sebesar 10 persen. Dengan negara sesama anggota ASEAN pun kita masih kalah, di Singapura ada 7 persen pengusaha, Malaysia sejumlah 5 persen, sementara Thailand di angka 3 persen,” ujarnya.

Yahya  yang juga aktif di KADIN ini berpesan agar lulusan Kampus Tegalboto yang berminat berwirausaha agar selalu ingat bahwa seorang pengusaha wajib memiliki semangat belajar, karena dunia bisnis selalu berkembang. Kedua, jika ingin berwirausaha, hendaknya mampu mengatur waktu karena dalam bisnis kita sendiri yang menentukan arah langkah. Ketiga, dunia bisnis memerlukan keberanian, ketekunan, kreativitas, inovasi dan kegigihan. “Ingat sukses itu bukan kebetulan, tapi hasil kerja keras. Kesuksesan itu diraih bukan karena tidak pernah gagal, tapi karena tidak pernah berhenti berusaha,” tegasnya.

Untuk memperjelas lebih detail bagaimana perjalanan Ir Yahya Taufik, berikut hasil wawancara wartawan majalah @ccess di sela-sela kesibukannya di hotelnya The Allana  Surabaya. Tim majalah pada esoknya juga diajak ke kantornya yang megah di tower AMG kawasan Mananggal Surabaya.

Bisa menceriterakan dari awal, mulai usaha seperti apa, perspektif kedepannya seperti apa?

Sebetulnya menjadi seorang penguasaha itu sama dengan profesi-profesi lainnya. Sebenarnya dari awal berdasarkan panggilan jiwa.

Saya sih sebetulnya tidak istimewa sekali.  Karena memang perjalann hidup saya dan kemudian latar belakang keluarga saya, memang berlatar belakang pedagang. Dan sejak kecil saya sudah terbiasa, bertemu dengan orang, melakukan pendekatan untuk berbisnis. Sejak dari kecil saya sudah ada di toko untuk membantu orang tua (punya toko). Disitu yang meletakkan dasar-dasar saya sebagai seorang pedagang. Dimana disitu saya terbiasa untuk bernegosiasi, melobi. Ayah saya ada di kota kecamatan Besuki. Salah satu yang dijual di toko, salah satunya seperti pakaian  seragam sekolah, seragam pegawai negeri, seragam Hansip.

Kebiasaan saya di toko itu sejak SD. Bahkan pada saat SMP, saya sudah diserahi project oleh ayah saya. Pada saat menjelang Agustus, saya oleh ayah diminta untuk menemui beberapa camat. Waktu itu saya meski masih bercelana pendek, kemudian menanyakan kepada camat mengenai kebutuhan untuk seragam Hansip dalam rangka hari peringatan 17 Agustus. Waktu itu belum ada misalnya harus tender seperti sekarang, tapi simple dengan pola penunjukan langsung. Yang penting harga masuk, pelayanan yang kita berikan baik, semuanya bisa jalan.

Itulah awal dari jiwa bisnis atau berdagang saya yang mendasari sebagai seorang pengusaha hingga saat ini. Dengan faktor pendidikan yang cukup, maka sekala yang saya lakukan juga akan menjadi lebih baik.

Waktu kuliah di Faperta dijalaninya seperti apa?     

Waktu kuliah di Faperta pun, mungkin teman-teman seangkatannya saya tahu persis seperti apa. Meski saya secara akademis cukup bagus, tapi saya jug aktif di bisnis saat kuliah. Misalnya mulai mensuplay bahan-bahan bangunan. Salah satunya kalau di Jember pada saat pembangunan  Politeknik, saya banyak sekali mensuplay bahan pembangunan, mungkin sampai 30% saya yang suplay. Saya menjadi suplayer mulai dari kebutuhan pasir, ubin, besi,  beton, dan lain-lain bahan bangunan lainnya.

Dari situ jugalah saya terasah, bagaimana kita dengan tanpa modal, kita dapat menjalankan suatu usaha. Kalau dulu, mungkin jauh lebih sulit dibandingkan dengan saat ini. Saat ini, anak-anak muda untuk masuk dunia usaha lebih mudah, misalnya usaha dengan cara online. Ada peluang berdagang atau bisnis cara online, sekarang ini terbuka peluang bisnis yang cukup besar.

Pada saat itu bagaimana saya mampu atau bisa menggaji karyawan, sampai-sampai saya melakukan, kalau dulu itu, istilahnya menganjakkan tagihan. Misalnya saat melakukan suplay barang, tapi pembayaran dari kontraktor mundur atau tempo sampai satu bulan atau lebih. Dalam kondisi seperti itu saya harus mencari akal bagaimana caranya supaya saya dapat membayar misalnya ongkos truk dan pembelian bahan, gaji karyawan saya, sehingga waktu itu harus mencari jalan, begitu saya mendapat nota tagihan, saya nganjakkan kepada orang tertentu, sehingg waktu itu keuntungan saya dipotong.

Sekarang saat saya menjadi pengusaha, baru tahu kebiasaan seperti dulu itu juga dilakukan saat sekarang itu dengan istilah yang lebih keren dengan istilah suplay change finance. Ada juga istilah anjak piutang, atau kredit transaksional, yang dilakukan dengan perbankan. Itu juga menjadi dasar pada saat saya memulai usaha. Bagaimana saya mencari modal sementara saya belum memiliki jaminan kepada perbankan. Sehingga bagaimana dengan jaminan yang minim saya memperoleh modal kerja yang cukup untuk menjalankan roda usaha, dengan jalan sistem anjak sita.

Dasar-dasar seperti itulah yan membentuk mental usaha, terbangun dalam diri saya. Memang setelah lepas dari kuliah, saya sempat beberapa kali gagal menjalankan usaha. Yang namanya berusaha kita tidak boleh takut dengan kegagalan. Justru kita harus yakin kalau kegagalan itu adalah sukses yang tertunda.  Usaha pertama yang saya lakukan dengan keluarga itu, gagal total.  Sehingga saya saat itu harus menjadi seorang karyawan,  saya bekerja menjadi profesional di suatu perusahaan.

Pada saat itulah, saya ketemu teman-teman membentuk network. Dari situ network mulai terbentuk. Pada saat kita dalam posisi mapan, sementara di dalam diri itu semangat dari basic sebagai pengusaha terus tumbuh dan berlanjut. Pada saat ada peluang waktu itu, saya melihat, saya dan teman yang akhirnya bermitra usaha dengan saya. Saat itu dimulai pada saat jaman ekonomi mengalami krisis moneter (1988), dimanan  saat itu barang-barang impor dengan harga sangat tinggi. Saat itulah, saya juga melihat ada peluang dimana kita menjalankan usaha memproduksi barang yang merupakan bagian dari barang impor.

Saat itu kami menangkap peluang, kalau kita bicara peluang bahwa peluang itu tidak datang dua kali. Dan bagaimana untuk menangkap dan meraih peluang, juga memerlukan keberanian. Keberanian itu kita peroleh dari mana? Keberanian itu ya memang kita peroleh dari basic yang kita dapatkan dari usaha sejak usia dini.

Kalau secara korporasi usaha yang dilakukan sejak kapan?

Ya sejak tahun 1998, yang saya sebutkan sebagai saat krisis moneter.  Saya dengan beberapa teman, saya berempat, merupakan orang kedua di perusahaan. Jadi saya bukan orang pertama, melainkan saya co founder di perusahaan itu.  Yang mendorong kepada teman-teman ayo untuk menjalankan usaha. Pada waktu itu memang karena kita tidak punya modal, tapi kita hanya tekad untuk berusaha. Yang pertama adalah modal tekad. Keberanin untuk memutuskan itulah, pada saat tahun 1998 sebenarnya posisi saya diperusahaan saya bekerja sudah mapan (mobil dinas, gaji cukup). Saat itu sebenarnya saya sudah berada pada zona aman dan nyaman. Tapi keberanian untuk memutuskan keluar dari zona aman dan nyaman membutuhkan suatu keberanian.

 

Saya katakan tadi tidak semua orang berani membuat keputusan seperti itu. Saya menyadari karena itu panggilan jiwa.

Prinsip-prinsip apa saja yang dijalankan dalam mengelola korporasi?

Apapun saya itu mempunyai satu keyakinan bahwa kalau kita melihat perjalanan hidup apapun yang kita dapatkan pada suatu waktu tidak mungkin lepas dari hubungan dengan apa yang kita lakukan dengan sesuatu sebelumnya.  Semuanya pasti akan ada keterkaitan. Meski kadang-kadang kita tidak menyadari. Oleh karena itu saya selalu menanamkan kepada siapapun, baik itu kepada anak-anak saya, keluarga saya, teman-teman saya. Yang pertama itu adalah jadilah orang baik.. Kita menjadi orang baik, baik secara spiritual, maupun kita menjadi orang  baik secara sosial. Kita tidak pernah tahu.Bahwa kita pada sekian bulan, sekian tahun, sekian waktu kedepan akan menjadi apa. Orang yang menerima kebaikan dari kita akan menjadi apa juga kita juga tidak tahu. Tapi kalau kita menanamkan diri kita untuk menjadi orang baik, maka insya  Allah kita akan menerima kebaikan-kebaikan yang kita tanam itu,  akan berbuah kebaikan juga pada waktunya.

Saya termasuk orang yang apabila saya melakukan kesalahan,  maka saya akan mengingat kesalahan-kesalahan itu yang terus menjadi kegelisahan. Meskipun kegelisahan itu tidak harus membebani secara tekad, namun saya akan selalu mengigat hal itu.

Kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat itu akan menjadi pelajaran bagi kita, hal yang berarti untuk langkah ke  depannya.

Kedua, selain jadilah orang baik, yakni bekerjalah sebaik-baiknya.  Bekerja dengan sempurna (perfect), tidak ada salahnya kita menjadi seorang perfeksionis, dimana kita melakukan segala sesuatu itu secara senpurna. Walaupun untuk menjadi sempurna itu kita harus melewati kesalahan-kesalahan.

Jadi kita jangan pernah kita menuntut sesuatu kalau kita belum melakukan sesuatu yang lebih. Sehingga saya juga selalu berpesan kepada karyawan-karyawan saya,   seandainya kalian sebagai pelaksana kemudian dapat menjalankan tugas sebagai seorang superviser, saya rasa kami yang ada diatas kalian tidak akan buta,  artinya akan melihat. Banyak orang sekarang ini bekerja hanya sekedar melaksanakan jobnya saja, tidak ada keberanian untuk melakukan lebih.  Memang melakukan lebih  dari sekedar jobnya itu ada resiko, misalnya ada resiko salah. Tapi setidak-tidaknya orang lain akan melihat bahwa dia ini memiliki potensi. Setidaknya  dia memiliki keberanian mengambil keputusan. Hal ini sesuatu hal yang sangat baik. Unsur keberanian itu yang diperlukan, disemua profesi, tidak hanya terbatas dari seorang pengusaha, bahwa keberanian itu dibutuhkan.

Demikian pula bila seorang superviser dia menunjukkan bahwa dia mampu menjalankan tugas sebagai manajer, maka apresisasi atasnya juga akan sama melihatnya bahwa orang ini memang memiliki potensi.

Hal ketiga, adalah tekad. Kalau dalam islam ada istilah istikhomah. Memang tidak ada sesuatu yang mudah. Kita menjalankan sesuatu dalam sekala kecil pasti itu memiliki spektrum mulai A sampai Z. Demikian juga kita melakukan hal yang besar juga sama. Maka kalau kita tidak istikhomah, maka apa yang kita kerjakan tidak mendalami atau tidak menguasi. Dari situ kita baru bisa bekerja dari hati. Hal-hal ini yan selalu saya tanamkan .

Bagaimana melihat status karyawan yang bekerja di korporasi?

Saya sekarang seperti ini  juga berangkat  dari seorang karyawan. Sehingga saya tahu bagaimana seorang karyawan. Oleh karena itu saat saya menjalankan usaha sendiri, kita bagaimana mendorong dan memotivasi kepada karyawan untuk  dapat bekerja sebaik-baiknya, seperti bekerja secara tim work, kemudian memberikan sesuatu. Setiap perusahaan di kami, kita selalu menerapka sistem dimana seseorang yang apabia dia bekerja berprestasi, maka dia punya hak untuk mendapatkan hasil yang lebih. Ada reward ada punishmen. Dengan sistem ini, maka seorang karyawan yang berprestasi dalam satu tahun dapat 20-30 kali gaji. Ada insentif, lebih-lebih karyawan yang bekerja di bidang marketing. Misalnya ada seorang karyawan yang dalam satu tahun mendapat insentif di atas satu miliar.

Kita melihat karyawan itu adalah aset terbesar dalam sebuah perusahaan. Kita sangat menjaganya, SDM yang ada. Kita awalnya menbuat perusahaan ini dengan beberapa teman memang berangkat dari seorang praktisi. Setelah perusahaan ini berkembang dan besar maka kemudian kita memanggil orang-orang profesional. Misalnya tugasnya untuk menata, untuk membuat sistem yang baik. Sebab awalnya managemen perusahaan yang kita terapkan managemen ala kita, yakni managemen keluarga. Tapi setelah perusahaan berkembang dan besar maka kita mencar orang-orang profesional untuk menata managemen. Misalnya membuat SOP,membuat peraturan-perturan perusahaan dan ketenaga kerjaan.

Para karyawan dan pekerja yang baik dan berprestasi, maka ketika perusahaan mengembangkan usaha baru, maka mereka itu juga kita libatkan. Yang dulu mereka itu karyawan, maka sekarang ini mereka banyak yang statusnya menjadi pemegang saham di anak perusahaan. Ada share saham dari perusahaan   untuk mereka di usaha yang baru.

Oleh karena itu, kalau dilihat dari jenis usaha yang sama, tapi banyak terdapat perusahaan baru yang sama didirikan. Misalnya perusahaan pupuk, kami punya pabrik di Mojokerto, di Medan, di Palembang, Di Sampit Kalimantan, yang akan datang menyiapkan pendirian pabrik di Kalbar dan Riau. Saat kami mendirikan pabrik-pabrik baru itu maka pemegang sahamnya termasuk karyawan-karyawan yang kita anggap punya prestasi  dan dapat diandalkan include disitu.

Karyawan itu setor modal atau dapat hibah dari perusahaan?  

Sebetulnya bukan hibah, hitungannya mereka tetap setor modal, tapi setorannya itu kita pinjami dulu.Nanti mereka akan bayar dari deviden pada saat mereka nanti mendapatkan deviden atas keuntungan perusahaan. Misalnya perusahaan laboratorium di Bogor, saham karyawan lebih dari 9%. Saham karyawan itu pemilikannya dibawah koperasi karyawan. Disamping punya hak untuk menjadi pemegang saham, mereka juga punya hak untuk mendapapatkan insentif, ada juga hak bonus. Tapi kami juga keras dalam hal phunismen atau tindakan atas kesalahan atau pelanggaran terhadap perusahaan. Yang paling keras kita melakukan tindakan tehadap mereka yang tidak jujur. Tidak ada toleransi. Mereka bila ada yang sekali melakukan ketidak jujuran, maka kita langsung melakukan tidakan yang tidak ditoleransi.

Tapi sebalaiknya perusahaan juga memberikan banyak penghargaan atas kerja keras mereka. Bila persahaan untung, maka tiap bulan tangga 5 ada clousing, perusahaan memberikan bonus bulanan para karyawan. Demikian juga pada saat keuntungan tahunan, juga ada bonus kepada karyawan. Bonus bulanan bisa diterimaka karyawan besarnya bisa 20-30% dari gaji.

Kita juga senang melihat karyawan memilki penghasilan yang cukup. Karena pada dasarnya karyawan juga sudah memberikan hasil yang banyak pada perusahaan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close