FOTOHEADLINENASIONALNEWSTak Berkategori

Industri Kapur dan Semen di Grenden Puger  Jember Tidak Berkontribusi Ke Desa Setempat.


Jember- Viralkata.com- Munculnya banyak industri di Gren den Puger Jember tidak memberikan kontribusi yang signifikan pada masyarakat desa setempat. Padahal industri tersebut berkembang menggunakan bahan baku batu kapur dari gunung Sadeng yang berlokasi di desa Grenden.

 

“Selaman ini tidak ada kontribusi dari industri yang ada pada desa dan masyarakat” ungkap Suyono, kepala desa Grenden Puger yang ditemui Viralkata.com.di kantornya , Kamis kemarin (11/2/2021).

 

Misalnya saat ini, lanjut Suyono, pihak desa sedang membangun kantor desa Grenden. Namun karena kekurangan dana Anggaran Dana Desa (ADD), maka pembangunan kantor desa Grenden tersebut terhambat, sudah dikerjakan sejak beberapa tahun terakhir ini tidak kunjung selesai.

Padahal di Desa Grenden ini banyak industri yang berbahan baku kapur dari gunung Sadeng di desanya. Termasuk ada pabrik Semen Puger dan Imasco serta Bangun Arta dan beberapa pabrik kapur yang berlokasi di desa Grenden dan desa sekitarnya. “Tapi industri itu tidak ada kontribusi, misalnya dana CSR perusahaan tersebut”, keluh Suyono.

Lantas Suyono menunjukkan kondisi kantor desa Grenden yang dimanfaatkan saat ini dalam kondisi darurat, selain kantor juga digunakan sebagai rumah dinas kepala desa. Namun beberapa ruangan yang dipergunakan untuk kerja para staf tidak memenuhi syarat.

Keadaan dan kondisi kantor desa Grenden ini sangat bertolak belakang dengan munculnya industri kapur berbahan baku dari Gunung Sadeng di desanya, mereka banyak yang berkembang menjadi industri besar dengan aset milyaran, bahkan bisa membus triliun. Contohnya pabrik semen Semen Puger saat ini sedang ditawarkan untuk dijual seharga rp 1,4 triliun.

Sedangkan pabrik Semen Imasco yang lokasinya bertetangga desa Grenden, berkembang sangat pesat. Sedangkan pabrik kapur Bangun Arta dan pabrik kapur lainya juga terus berkembang.

Padahal,menurut Suyono, kehadiran dan keberadaan industri berbahan kapur dari Gunung Sadeng di desa Grenden tersebut, harusnya membawa manfaat yang positip bagi desa dan warganya. Namun kenyataan selama ini, justru sebaliknya. Bahkan justru ada dampak negatif yang ditimbulkan. Mulai dari dampak kerusakan lingkungan dan polusi debu. Bukan hanya itu saja, aktivitas penambangan batu kapur Gunung Sadeng, mengunakan alat-alat berat menimbulkan suara yang sangat mengganggu lingkungan. Apalagi mereka melakukan aktivitas penambangan sejak pagi hingga malam hari.

Saat ditanyakan terkait dengan ijin penambangan dan ijin industri, Suyono tidak bisa menjawab. Sebab pihak desa tidak dilalui dalam proses ijin penambangan dan industri tersebut. “Industri hanya minta keterangan pengantar domisili usaha saja dalam rangka IUP (ijin Usaha Penambangan)”, ujarnya.

Areal penambangan Gunung Sadeng Grenden Puger ini seluas 152 hektar. Sebetulnya memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Namun kenyataan yang terjadi tidak demikian. Potensi yang besar ini hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja, terutama yang terkait dengan mereka ada job atau project dengan industri tersebut.

Misalnya muncul beberapa nama yang saat ini mendapatkan kekayaan yang berlimpah dari industri batu kapur. Seperti nama pengusaha Ponimin, H Ikhwan. Orang-orang ini terutama mendapat pekerjaan sebagai pemasuk bahan baku industri ke pabrik Semen Imasco maupun pabrik kapur yang memproduksi dolomit dan batuan kecil berbagai ukuran berbahan baku batu kapur.

Tragisnya, areal penambangan batu kapur Gunung Sadeng seluas 152 hektar tersebut menyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) ke Pemkab Jember hanya sebesar 500 juta pertahun. Sedangkan untuk kontribusi PAD desa Grenden adalah nihil. (gih/sir/nung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close