Tak Berkategori

Faida Pecundang, Saatnya Bermetamorfosis.

Catatan SINGGIH SUTOYO Pemred Viralkata.com.

JEMBER- VIRALKATA.COM- Bupati Faida tak menghadiri sidang paripurna pengumunan hasil penetapan bupati dan wakil bupati terpilih, Hendy Siswanto dan Muhammad Balya Firjaun Barlaman, di gedung DPRD Jember, Jawa Timur, Jumat (29/1/2021) siang.

Lead berita serupa di beberapa media online sebenarnya tidak mengejutkan. Pasalnya, sudah banyak pihak yang menduga kalau Faida yang kalah dalam Pilkada 9 Desember lalu itu, tidak bakalan datang di sidang paripurna DPRD tersebut. Bahkan sidang paripurna DPRD Jember saat pemazulan dirinya, Faida juga tidak mau datang, dengan berujar ke wartawan yang menanyakan ketidak hadirannya, dijawab “tidak penting”, katanya.

Hanya Wakil Bupati Abdul Muqiet Arief yang hadir di samping Wakil Ketua DPRD Jember Ahmad Halim yang memimpin sidang. Sementara Ketua DPRD Jember Itqon Syauqi duduk satu deret di sisi sayap timur ruang sidang bersama Hendy dan Firjaun. Rapat paripurna juga dihadiri perwakilan instituisi Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilu, kepolisian, TNI, pengadilan, kejaksaan, dan pimpinan 11 partai politik parlemen.

Bagi sebagian anggota DPRD, ketidak hadiran Faida menjadi catatan tersendiri. Setereotip Faida yang memiliki kemampuan komunikasi buruk dengan DPRD memang tidak dapat dipungkiri. Berawal dari sinilah, sebenarnya kehancuran Faida terjadi. Terjadinya konflik berkepanjangan antara Faida dengan DPRD membuat bertumpuk masalah, mulai dari gagalnya Perda APBD, melahirkan Pansus Hak Pengajuan Pendapat, sampai pada merembet hubungan buruk dg partai politik pengusung Faida saat mendapatkan jabatan bupati lima tahun silam. Apalagi kemudian memilih jalur independen non partai koalisi untuk maju di Pilkada 9 Desember 2020 silam.

Sosok Faida selaku calob incumben menjadi musuh bersama, bukan hanya rival partai politik, Paslon lain, juga oposisi dengan media pers yang terus mendown grade Faida. Semua melemahkan Faida hingga menjatuhkan elektabilitasnya hingga kalah Pilkada dari rival Paslon H. Hendy Siswanto-Gus Firjaun.

Posisioningnya Faida terpuruk atas kekalahannya. Tentu sangat terpukul dan kecewa berat nasip sebagai seorang pecundang. Rasa malu sebagai pihak yang kalah telak diluar prediksi dari percaya dirinya, sebelumnya yakin akan keluar menjadi pemenang. Konsultan politiknya Eep Syafulah Fatah, CEO Polmark, terlanjur mempublikasikan hasil survey dua seminggu sebelum Pilkada atas keunggulan Faida.

Ternyata fakta berbicara lain, Faida kalah telak atas rivalnya Paslon H. Hendy- Gus Firjaun pada saat Pilkada. Faida menjadi limbung, menahan rasa malu, kecewa, tak punya muka, terjatuh dan terpuruk harga diri dan martabatnya. Muncul berbagai tindakan Faida yang ngwur dengan.membuat ulah dan kegaduhan politik pemerintahan di kab.Jember. Soal ulah Faida membuli dan mendzolimi Kyai Muqit dengan ancaman memasukkan penjara, melakukan mutasi semua eselon, mengangkat PLT pejabat diingkungan Pemkab, memecat pejabat berbagai tingkatan dari Camat, kepala dinas hingga Sekda.

Banyak yang menuding kegaduhan yang diciptakan Faida adalah bentuk sublimasi rasa kecewa dan sakit hati atas kekalahannya. Selain segala sepakterjang dan manuvernya untuk merusak tatanan birokrasi sebelum berakhir masa jabatannya 16 Februari mendatang. Dengan demikian, rival politiknya H. Hendy yang akan menggantikan jabatan bupati Faida akan mengalami banyak kesulitan nantinya.

Faida naif, tidak berfikir panjang. Justru H. Hendy akan menjadi pintu masuk yang dapat berputar menghantam balik Faida. Seorang pejabat pengganti dapat memasok data, bukti dan informasi, semua potensi hukum kasus-kasus yang ditinggalkan Faida.

Seharusnya Faida bisa bersikap bijak dan lebih dewasa berpolitik. Kekalahan dalam.sebuah kompetisi ajang Pilkada bukanlah berakhir dan tamat semuanya. Demikian juga hilang dan berakhirnya jabatan bupati Faida, masih banyak hal.dan potensi dirinya yang berenergi positip.

Faida dengan semua potensi yang ada pada dirinya, harusnya masih bisa melakukan bermetamorfose, menjelma menjadi seorang Faida yang mempesona, ibarat kemampuan ulat masuk kepompong bermetamorfose sempurna menjadi kupu-kupu yang indah.

Seorang Faida bisa berubah tiba-tiba menjadi seorang yang mempesona dengan banyak langkah dan jalan. Berhenti jadi bupati, masih terbuka menjadi ketua partai. Dari ketua partai.masih terbuka lebar meraih posisi sebagai anggota DPR RI. Terus berproses di level pusat-pusat elit partai dan elit politik serta elit kekuasaan.

Dengan melakukan bermetamorfose, maka seorang Faida menjadi pesona kuat di tempat lain, tidak harus terobsesi untuk dua periode jabatan bupati. Seorang Faida bisa.menjadi sorang doktor lulusan S3 karena usianya yang masih muda dengan dukungan kemampuan finansial. Bisa menjadi aktivis ketua partai di tingkatan DPC, DPD, hingga DPP..Menjadi anggota legislatif di tingkat daerah atau pusat. Dapat terus.melakukan lobi-lobi politik yang bisa mengamankan dirinya dari kejaran APH (aparat penegak hukum) di.tingkat Kejaksaan, Kepolisian bahkan KPK.

Namun bila Faida tidak menjadi cerdas oleh akal, sebaliknya terbawa baper dan tidak.mamou move on, maka yang akan bakal terjadi justru akan menggiring dirinya masuk pintu penjara atas kasus-kasus penyimpangan selama dia menjabat bupati yang penuh carut marut!!!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close