ENTERTAINMENTFIGURHEADLINENASIONALNEWS

BASRI MENYAPA FARHAN SIKI, SENIMAN ART STREET KELAS DUNIA.

Bambang Asrini Widjanarko Beraksi Menyapa.

 

JAKARTA-VIRALKATA.COM :  #Basri Menyapa kali ini bersua dengan seniman street art, Farhan Siki. Alumnus Fakultas Sastra jurusan sejarah th 92, Unej, yang memilih jalanan tempat ia merapal masa depannya.

Pada dialog onlines ini #Basri Menyapa akan mengupas tuntas visi estetiknya juga karya-karya mutakhirnya tentang Covid-19. Silakan simak dan mengapresiasi pada Jumat, 5 Juni, pukul 19.30 WIB sedulur. Bagi yang serius, silakan WA 08151850450 utk id meeting dan zoom password. Salam Budaya dan #Basri, Bambang Asrini

Totalitasnya berkesenian semenjak aktif di UKM Kesenian Unej dan 10tahun lebih berkiprah dalam dunia seni rupa Indonesia, terganjar oleh prestasi demi prestasi, tatkala pintu-pintu

 

Farhan pantas disebut sebagai “Cultural Ambassador” dari Indonesia, utamanya oleh seniman2 street art Eropa tatkala beberapa kali ia menggelar pameran di Milan, Italia, salah satu ibukota seni di Eropa. Karya-karyanya sering mengeksplorasi “jantung lansekap kehidupan Urban” dengan kritik pada konsumerisme, globalisasi dan ingatan2 sejarah sebuah tempat

Farhan Siki, kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 17 Juli 1971. Awal kuliah di Fakultas Sastra Unej, pilihannya hanya ada dua opsi kala itu yaitu pilih kuliah (tak peduli kuliah di bidang studi apa saja) atau tidak kuliah dan selanjutnya menjadi anggota geng anak metal kampung yang gemar tawuran. “Jadi tukang parkir atau tukang pikir”, ujarnya.

Dia  pun berangkat ke Jember sendirian dengan uang yang hanya cukup buat biaya daftar ulang mahasiswa baru. Awal semester guna bisa survive hidup di Jember dia  mondok di Pesantren Darussalam di sisi barat Stasiun Jember.  Dan setelah tiga semester berlangsung,  memutuskan meninggalkan pesantren dan numpang tidur di sekretariat kegiatan mahasiswa (UKM Kesenian Unej) di kampus yang kelak hari menjadi wadah aktivitas-aktivitas dia  bidang seni dan budaya selama menjalani masa studi yang panjang yakni 8 tahun (1992-2000)

Setelah beberapa semester Farhan mengembangkan diri diluar kegiatan akademik yaitu dengan mengikuti kaderisasi GMNI. Dari aktif di GMNI ini mengantarkan dia  mengenali dan menjalani dunia aktivis mahasiswa secara idealis yakni mahasiswa yang kritis dan terhubung dengan realitas sosial masyarakat diluar kampus. Dalam kegiatan intra kampus selama 7 tahun lebih dia  aktif di UKM Kesenian Unej Bidang Seni Rupa, dimana dalam satu periode Farhan  pernah menjadi ketua umumnya. “Dan inilah yang kemudian merubah arah orientasi saya, dari keinginan menjadi sejarawan menjadi seorang seniman”, jelasnya.

 

Kendalanya, Farhan merasa karena orientasi belajar yang sudah berubah, karena keasyikan belajar dan berlatih seni rupa di UKM, maka kuliah dia  di Fakultas Sastra nyaris di-DO, dengan durasi studi yang panjang 8 tahun tanpa ada masa cuti. “Tapi Alhamdulillah akhirnya saya berhasil sampai tugas akhir kuliah dan mengikuti wisuda sarjana di tahun 2000:, ujarnya.

Setelah lulus kuliah, Farhan lebih fokus kegiatan dibidang keseniah. Ada  dorongan kuat ingin mengembangkan potensi seni dan kreatifitas, maka sehari setelah wisuda dia memutuskan meninggalkan Jember dan pergi ke kota-kota dengan iklim kesenian yang subur dan kompetitif mulai  ke Yogyakarta, terus ke Bandung dan kemudian tinggal dan berkarya di Jakarta untuk durasi yang cukup lama yaitu dua setengah tahun (2000-2002).

Berbekal pengalaman saat aktif berkesenian di Jember, Farhan pun lantas ikut dan terlibat proyek-proyek seni ruang publik di Jakarta; Mural JakArt Festival (2001) instalasi Urban Poor Consortium (2002), Mural Project BAE Bandung (2001) dan puncaknya adalah proyek mural internasional SAMA SAMA Yogyakarta – San Francisco (2003). Tahun-tahun selanjutnya dia  lalui dengan kegiatan- kegiatan seni yang lebih padat dan menantang termasuk berani pameran tunggal pertama di Bali tahun 2007 dan pameran-pameran tunggal setelahnya di Jakarta, Jogja, Surabaya dan debut pameran tunggal pertama di luar negeri, yaitu di Primo Marella Gallery di Milan, Italia tahun 2011. Setelah pameran di Milan di tahun yang sama dia menjalani seniman mukim (Artist in Residendy) di Kota Lecce, Puglia, Italia

 

Orang- orang yang berperan dalam proses kesenian Farhan  tentu para tokoh dan para kritikus seni rupa yang independen dan obyektif dalam melihat diri dia  dan karya dia. Karena keberadaan Farhan yang anomali, yaitu tanpa latar pendidikan seni rupa, yang kerap menimbulkan tanda tanya besar dan underestimate, bagaimana seorang seniman lukis bisa diakui tanpa ada bekal keilmuan yang cukup. Jika disebutkan nama-nama orang yang berperan dalam proses kreatif Farhan diantaranya adalah Hendro Wiyanto, Kurator independen lulusan STSR ASRI (sekarang ISI Yogyakarta) , yang sudah tiga kali mengkurasi pameran tunggal Farhan. Lalu ada Rizki A Zaelani, Kurator dari ITB Bandung dan Galeri Nasional Indonesia, yang sering mengundang Farhan  berpartisipasi dalam pameran-pameran penting di Jakarta, ada juga perupa Hanafi, pendiri Komunitas Studio Hanafi, dimana selama dua setengah tahun tempat dia  tinggal dan berproses di studio ini pada awal-awal tahun dia migrasi dari Jember ke Jakarta.

Tantangannya dalam menggeluti dunia seni lukis  adalah bagaimana bisa mendapatkan rekognisi atau pengakuan sebagai seniman didalam medan sosial seni yang sudah lama dihegemoni oleh institusi-institusi pendidikan seni raksasa seperti FSRD ITB Bandung, ISI Yogyakarta dan IKJ Jakarta. Jaringan feodalisme kesenian yang tidak pernah memihak orang-orang anomali institusi kesenian seperti dia.

Pengalaman menarik selama menjalani profesi seni lukis adalah dia banyak travel ke luar negeri dan berhubungan dengan orang-orang seni ( artist, gallerist, curator, collector, dll) dari berbagai bangsa lewat forum-forum biennale, art fair, art festival dan global art forum lainnya. Disitu Farhan  banyak belajar tentang seni dan kebudayaan bangsa lain, yang mencakup identitas, gagasan, bentuk, konseptual dan ideologi berkesenian.

Obsesi yang ingin dicapai dalam bidang kesenian adalah rekognisi internasional atas karya-karya seni dia  untuk bisa hadir dan eksis di forum -forum seni bergengsi dunia semacam Venice Biennale di Italia, Documenta di Kassel Jerman, Sao Paolo Biennale di Brazil atau Biennale Havana di Cuba. “Aamiin ya Allah!”, pekiknya.

Beberapa penghargaan yang diraihnya  (Awards): 1997: “Saraswati Prize” Karya Seni Poster Terbaik, Pimnas X, Universitas Udayana Bali 1999; Karya Seni Lukis Terbaik Peksiminal V”, STKW Wilwatikta, Surabaya 2006: The Best 20 Comics “Lass Uns Fussball Spielen, Aber wo?”, Goethe Institut Jakarta 2010: Pemenang Jakarta Art Award 2011, Jakarta 2013: The Nominee of Prudential Eye Awards ( Painting Category), Parallel Contemporary Art, London, UK

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close